Diberdayakan oleh Blogger.

pencarian

Total Tayangan

Post Populer

Blogger templates

Blogroll

Featured 1

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 2

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 3

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 4

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Featured 5

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Jumat, 10 April 2015

“ANALISA PERBANDINGAN ANTAR ALIRAN : AKAL DAN WAHYU, IMAN DAN KUFUR”

A.    Latar Belakang
Teologi sebagai ilmu yang membahas soal keTuhanan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan,memakai akal dan wahyu dalam memperoleh pengetahuan tentang kedua soal tersebut.Akal, sebagai daya berfikir yang ada dalam diri manusia,berusaha keras untuk sampai kepada diri Tuhan,dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Tuhan.
Agenda persoalan yang pertama-tama timbul dalam teologi islam adalah maslah iman dan kufur.Persoalan itu dimunculkan pertama kali oleh kaum khawarij tatkala mencap kafir sejumlah tokoh sahabat Nabi SAW.Perbincangan konsep  iman dan kufur menurut tiap-tiap aliran islam, seperti yang terlihat dari berbagai literatur ilmu kalam,sering kali lebih dititik beratkan pada satu aspek saja dari dua tern,yaitu iman atau kufur.Ini dapat dipahami sebab kesimpulan tentang konsep iman bila dilihat kebalikannya juga berarti kesimpulan tentang konsep kufur.

B.     Rumusan masalah
1.        Pengertian Akal dan Wahyu
2.        Analisa Perbandingan Antar Aliran Tentang Akal dan Wahyu
3.        Fungsi Akal dan Wahyu
4.        Pengertian Iman dan Kufur
5.        Analisa Perbandingan Antar Aliran tentang Iman dan Kufur







BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akal dan Wahyu
1.Akal
kata akal berasal dari bahasa Arab yaitu al-‘Aql (
العـقـل), yang dalam bentuk kata benda,  kata ini tidak terdapat dalam al-Qur’an. Didalam Al-Qur’an hanya ada bentuk kata kerjanya yaitu ‘aqaluuh (عـقـلوه) seperti kata ta’qiluun تعـقـلون) ), na’qil نعـقـل)) ya’qiluha (يعـقـلها) dan kata ya’qiluun يعـقـلون)), kata-kata itu bisa diartikan faham dan mengerti.
Dalam pemahaman Prof. Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliyyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem-solving capacity). Orang berakal, menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah. Bagaimana pun kata ‘aqala mengandung arti mengerti, memahami dan berfikir. Dalam al-Qur’an dijelaskan dalam surat al-Hajj ayat  46 yang dikatakan bahwa pengertian, pemahaman dan pemikiran dilakukan melalui qalbu yang berpusat di dada.
Memang banyak sekali pendapat-pendapat yang menguraikan tentang pengertian akal. Tapi dalam pandangan Islam, akal tidaklah otak, tetapi daya pikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang sebagai digambarkan dalam al-Qur’an, memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yaitu dari Tuhan.
b. Wahyu
Secara etimologi wahyu berarti isyarat, bisikan, ilham, perintah. Sedangkan menurut terminologi berarti nama bagi sesuatu yang disampaikan secara cepat dari Allah kepada Nabi-Nabi_Nya.
Dalam pengertian lain, wahyu berasal dari kata arab الوحي, dan al-wahy adalah kata asli Arab yang berarti suara, dan kecepatan. Di samping itu juga mengandung arti bisikan, isyarat, tulisan dan kitab. Selanjutnya mengandung arti pemberitahuan secara sembunyi-sembunyi dan dengan cepat. Tentang penjelasan cara terjadinya komunikasi antara Tuhan dan Nabi-Nabi.

B. Analisa perbandingan antar aliran tentang akal dan wahyu
1. Aliran Mu’tazilah
            bagi kaum mu’tazilah, segala pengetahuan dapat diperoleh dengan perantaraan akal, dan kewajiban-kewajiban dapat diketahui dengan pemikiran yang mendalam. Dengan demikian berterima kasih kepada Tuhan sebelum turunya wahyu adalah wajib. Baik dan jahat dapat diketahui oleh akal, demikian pula kewjiban mengerjakan yang baik dan menjahui yang jahat, dapat diketahui oleh akal.
            Dalam kaitan ini Abu Al-huazail menyatakan bahwa sebelum datangnya wahyu, seorang mukalaf wajib mengetahui adanya Tuhan tanpa keraguan sedikit pun. Jika ia tidak berterima kasih kepada Tuhan, maka akan mendapatkan hukuman. Ia juga wajib mengetahui perbuatan yang baik dan buruk dannoleh karenanya, ia berkewajiban mengerjakan yang baik seperti jujur dan adil serta menjauhi perbuatan yang buruk seperti berdusta dan dholim.
2. Aliran Asy’ariyah
            asy’ariyah berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan, sedangkan tiga hal lainnya, yakni kewajinban berterima kasih kepada Tuhan, baik dan buruk serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat diketahui manusia berdasarkan wahyu.
            Bagi Al-Asy’ari, manusia tidak dapat mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk, manusia tidak dapat mengetahui apa saja yang menjadi kewjiban-kewjibannya. Semua kewajiaban hanya dapat diketahui melalui wahyu. Akal tidak dapat membuat sesuatu menjadi wajib dan tidak bisa menetapkan bahwa sesuatu itu baik atau buruk, juga tidak dapat menetapkan bahwa mengerjakan yang baik dan menjauhi yang buruk adalah wajib bagi manusia. Demikian juga dengan kewajiban mengetahui Tuhan, hanya dapat diketahui lewat wahyu.[1]



3. Aliran Maturidiyah Samarkhan dan Bukhara
Ø  Menurut Maturidi Samarkhan
Akal dapat mengetahui adanya tuhan, kewajiban mengetahui tuhan,dan mengetahui baik dan jahat. Adapun kewajiban untuk mengerjakan yang baik dan meninggalkan yang jahat akal tidak mampu mengetahui nya. Hal ini hanya dapat diketahui oleh wahyu.
Ø  Menurut maturidiyah bukhara
Akal manusia hanya mampu untuk mengetahui tuhan dan mengetahui baik dan jahat. Adapun kewajiban mengetahui tuhan dan kewajiban melakukan yang baik dan meninggalkan yang jahat akal manusia tidak mampu mengetahuinya dan hal ini hanya dapat diketahui dengan wahyu.[2]

C.Fungsi Akal dan Wahyu
         Mengenai fungsi ini dikatakan bahwa wahyu mempunyai kedudukan terpenting dalam aliran Asy’ariyah dan fungsi terkecil dalam faham mu’tazilah.
Bertambah besar fungsi diberikan kepada wahyu dalam suatu aliran, bertambah kecil daya akal dalam aliran itu. Sebaliknya bertambah sedikit fungsi wahyu dalam suatu aliran, bertambah besar daya akal pada aliran itu. Akal, dalam usaha memperoleh pengetahuan, bertindak atas usaha dan daya sendiri dan dengan demikian menggambarkan kemerdekaan dan kekuasaan manusia. Wahyu sebaliknya, menggambarkan kelemahan manusia, karena wahyu diturunkan Tuhan untuk menolong manusia memperoleh pengetahuan-pengetahuan.

D. pengertian Iman dan Kufur
1. Iman
Iman dari segi bahasa berarti : pembenaran, sedangkan makna iman dari segi istilah ialah pembenaran atau pengakuan hati dengan penuh yakin tanpa ragu-ragu akan segala apa yang di bawa oleh Nabi Muhammad SAW yang diketahui dengan jelas sebnagai ajaran agama yang berasal dari wahyu Allah.

2.Kufur
       Kufur adalah kebalikan daripada iman. Dari segi lughat “kufur” artinya menutupi. Orang yang bersikap ‘kufur’ disebut kafir, yaitu orang yang menutupi hatinya dari hidayah Allah.
E. Analisa perbandingan antar aliran tentang iman dan kufur
1. Aliran Khawarij
Sebagai kelompok yang lahir dari peristiwa politik, pendirian teoligis khawarij terutama yang berkaitan dengan masalah iman dan kufur lebih bertendensi polotik ketimbang ilmiah teoritis. Kebenaran pernyataan ini tidak dapat disangka karena seperti yang telah diungkapkan sejarah, khawarij mula-mula memunculkan persoalan teologis seputar masalah, “apakah Ali dan pendukungnya adalah kafir attau mukmin ? “, “apakah muawiyah dan pendukungnya telah kafir atau mukmin ? “. Jawaban atas pertanyaan ini kemudian menjadai pijakan atas dasar dari teologi mereka. Menurut mereka karena Ali dan Muawiyah, beserta para pendukungnya telah melakukan tahkim kepada manusia, berarti mereka telah berbuat dosa besar. Dan semua pelaku dosa besar (mutab al kabirah), menurut semua subsekte khawarij, kecuali najda adalah kafir dan akan disiksa dineraka selamanya.
Iman dalam pandangan khawarij, tidak semata percaya kepada Allah. Mengerjakan segala perintah kewajiban agama juga merupakan bagian dari keimanan. Segala perbuatan yang berbau religius, termasuk didalamnya masalah kekuasaan adalah bagian dari keimanan (al amal juz;un al iman). Dangan demikian siapapun yang menyatakan dirinya beriman kepada Allah dan bahwa Muhammad adalah RasulNya, tetapi tidak melaksanakan kewajiban agam dan malah melakukan perbuatan dosa, ia dipandang kafir oleh khawarij.[3]
2. Aliran Murjiah
Berdasarkan pandangan murjiah tentang iman untuk memilih subsekte yang ekstrim atau moderat harun nasution menyebutkan bahwa subsakte murjiah yang ekstrim adalah mereka yang berpandangan bahwa keimanan terletak didalam qolbu. Adapun ucapan dan perbuatan tidak selanya menggambarkan apa yang ada didalam qolbu . oleh karena itu, segala ucapan dan perbuatan seseorang yang menyimpan dari kaidah agama tidak berarti menggeser atau merusak keimanannya, .bahkan keimanannyan masih sempurna dalam pandangan Tuhan.
Sementara yang dimaksud murjiah moderat ialah mereka yang berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidaklah menjadi kafir, meskipun disiksa dineraka, ia tidak kekal didalamnya bergantung pada dosa yang dilakukannya. Denagan demikian, masih terbuka kemungkinan bahwa tuhan akan mengampuni dosanya sehingga bebas dari siksaan neraka. Ciri khas mereka lainnya ialah dimasukannya iqrar sebagai bagian penting dari iman.
Pertimbangannya, pendapat menurur Abu Hanifah tentang pelaku dosa besar dan konsep iman tidak jauh berbeda dengan kelompok Murjiah moderat lainnya.Ia  berpendapat bahwa seorang pelaku dosa besar masih tetap mukmin,tetapi bukan berarti bahwa dosa yang di perbuatnya tidak berimplikasi.Andaikata masuk neraka karna Allah menghendakinya,ia tak akan kekal didalamnya.Ditambahnya pula bahwa iman tidak bertambah tidak kurang.
3.    Aliran Mu’tazilah
Mu’tazilah tidak menentukan status dan predikat yang pasti bagi pelaku dosa besar,apakah telah mukmin atau kafir.Menurut Mu’tazilah setiap pelaku dosa besar menempati posisi tengah diantara posisi mukmin dan posisi kafir.Jika meniggal dinia sebelum tobat ia akan dimasukkan dalam neraka selama-lamanya.Namun ,siksaan yang dapat diterimanya lebih ringan daripada siksaan orang kafir.
Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan salah satu unsur terpenting dalam konsep Iman. Bahkan hampir mengidentikannya dengan Iman. Ini mudah dimengerti kerena konsep mereka tentang amal sebagai bagian penting keimanan memiliki keterkaitan lagsung dengan masalah al-wa’d wa al wa’id (janji dan ancaman) yang merupakan salah satu dari “Pancasila” Mu’tazilah.
Aspek penting lainnya dalam konsep Mu’tazilah tentang Iman adalah apa yang mereka identifikasikan sebagai ma’rifah(pengetahuan dan akal). Ma’rifah menjadi unsur yang tak kalah penting dari Iman karena pandangan Mu’tazilah yang bercorak rasional.
Masalah fluktuasi iman, yang merupakan persoalan teologi yang diwariskan aliran Murji’ah, disinggung pula oleh Mu’tazilah. Aliran ini berpendapat bahwa manakala seseorang meningkatkan dan melaksanakan amal kebaikannya, imannya semakin bertambah. Setiap kali ia berbuat maksiat, imannya semakin berkurang. Kenyataan ini dapat dipahami mengingat Mu’tazilah, seperti halnya Khawarij, mamasukan unsur amal sebagai unsur penting dari iman(al-amal juz’un min al-iman).
4. Aliran Asy’ariyah
 untuk memahami makna iman yang diberikan oleh Abu Al-Hasan Al-Asy’ari masih sukar dipahami. Sebab, didalam karya-karyanya seperti Maqala Al-Ibanah, dan Al-Luma,  ia mendefinisikan aman secara berbeda-beda dalam maqalat dan Al-Ibanah disebutkan bahwa, iamn adalah qawl dan amal dapat bertambah serta berkurang. Dalam Al-L­uma, iman diartikannya sebagai tashdiq bi Allah. Argumentasinya, bahwa kata mukmin seperti ddisebutkan dalam Al-Qur’an surat Yusuf ayat 7 memiliki hubungan makna dengan kata sadiqin  dalam ayat itu juga. Dengan demikian, menurut Al-Asy’ari, iman adalah tashdiq bi al-qalb(membenarkan dengan hati).
Diantara definisi iman yang diinginkan al-asy’ari dijelaskan oleh asy-syahratani salah seorang teolog asya’irah. Asy-syahratani menulis: “Al asy’ari brkata,”...iman (secara esensial) adalah tasydiq bi aljanan (membenarkan dengan hati). Sedangkan ‘mengatakan’ (qawl) dengan lisan dengan melakukan berbagai kewajiban utama (amal bi al-arkan) hanyalah merupakan furu(cabang-cabang)iman. Oleh sebab itu, siapapun yang membenarkan ke Esaan Tuhan dengan kalbunya dan juga membenarkan utusan-utusanNya beserta apa yang mereka bawa darinya,iman orang semacam itu merupakan iman yang shahih... dan keimanan seorang tidakakan hilang kecuali jika ia mengingkari dari hal-hal tersebut.[4]
5. Aliran Maturidiyah
Dalam masalah iman, aliran maturidiyah samarkhan berpendapat bahwa iman adalah tashdiq bi al-qalb, bukan semata-mata iqrar bil al-lisan. Pengertian ini dikemukakan oleh Al-Maturidi sebagai bantahan terhadap Al-Karamiyah, salah satu subsekte Murji’ah. Ia beragumentasi dengan ayat Al-Qur’an surat Al-Hujurat 14.
Ayat tersaebut dipahami Al-Maturidi sebagai suatu penegasan bahwa keimanan itu tidak cukup hanya dengan perkataan semata, tanpa dipahami pula oleh qolbu. Apa byang oleh diucapkan lidah dalam bentuk pernyataan iman, manjadi batal bila hati tidak mengikuti ucapan lidah.
Adapun pengertian iman menurut Maturidiyah Bukhara, seperti dijelaskan oleh Al-Bazdawi, adalah tasdiq bil al-qalb dan tasdiq bil al-lisan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa tasdiq bil al-qalb adalah menyakini dan membenarkan dalam hati tentang keesaan Allah dan Rasul-rasul yang diutus-Nya beserta risalah yang dibawanya. Adapun yang dimaksud tasdiq al-lisan adalah mengakui kebanaran seluruh pokok ajaran secara verbal.[5]        


















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Terdapat perbedaan pendapat diantara aliran-aliran teoogi islam mengenai iman dan kufur. Perbedaan itu sedikit banyak dipengaruhi oleh teori kekuatan akal dan fungsi wahyu. Mu’tazilah dan maturidiyah samarkhan berpendapat bahwa akal mencapai kewajiban mengetahui tuhan (KMT), iman melibatkan ma’rifah didalamnya. Menurut murji’ah meskipun mereka menyebut ma’rifah, yang dimaksudnya bukanlah ma’rifah bi al-qalb.
Sebaliknya aliran-aliran yang tidak berpendapat bahwa akal dapat mencapai kewajiban mengetahui tuhan, iman dalam konsep mereka tidak melibatkan ma’rifah didalamnya. Hal ini kita temukan dalam aliran asy’ari dan maturidiyah bukhara.
Aliran-aliran yang mengintegrasikan amal sebagai salah satu unsur keimanan yakni mu’tazilah dan khawarij memandang bahwa iman dapat bertambah atau berkurang. Sementara aliran-aliran yang tidah memasukkan amal sebagai unsur dari iman seperti murji’ah,asy’ariyah, maturidiyah samarkhan dan maturidiyah bukhara berpendapat bahwa iman tidak bisa bertambah atau berkurang. Kalaupun iman dapat dikatakan bertambah atau berkurang hal itu terjadi pada sifatnya.   









DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Rosihon dan Abdur, Rozak. Ilmu Kalam. Bandung: Pustaka Setia. 2003.
Zuhri, Amat. Warna-warna Teologi Islam. Pekalongan: STAIN Press. 2009.
Nasution, Harun. Teologi Islam; Aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta: UI Press 1986.
Izutsu, Toshihiko. Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam. Yogyakarta: Tiara Wacana. 1994.



[1] Prof. Dr. Harun Nasution, Teologi Islam, hal  73-75
[2] Ibid, hal 76-78
[3] Drs. Rosihon Anwar, M.Ag dan Drs. Abdur Rozak, M.Ag, Ilmu Kalam, hal 142-143
[4] Ibid hal 146-148
[5] Ibid hal 149-151

ilmu akhlak dan persoalannya

BAB I
PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
           Agama merupakan tujuan yang lurus (shiratal mustaqim) menuju tempat kebahagiaan, menuju tujuan manusia di dunia dan di akhirat. Iman, Islam, Ihsan merupakan tiga unsur yang berjalan, berakhlak mulia sebagai isi ajaran Rasulullah, menjalani agama (ibadah dan amal shaleh) yang ihsan merupakan kewajiban .Ajaran agama islam bersumber  kepada norma-norma pokok yang dicantumkan didalam Al-Qur’an dan sunnah Rosul SAW sebagai suri tauladan (uswatun khasanah) yang memberi contoh mempraktikan Al-Qur’an,menjelaskan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari sebagai sunnah Rosul.Nabi memiliki  akhlak yang agung,disebut sebagai suri teladan yang baik .Berakhlak islamiah berarti melaksanakan ajaran islam dengan jalan yang lurus terdiri dari Iman, Islam, Ihsan.







BAB II
PEMBAHASAN
ILMU AKHLAK DAN PERSOALANNYA
1.     PENGERTIAN AKHLAK DAN ILMU AKHLAK
Akhlak menurut bahasa ( etimologi ) adalah bentuk jamak dari khuluq (khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabi’at.[1] Akhlak bisa disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Khuluq merupakan gambaran sifat batin manusia, gambar bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh. Dalam bahasa yunani pengertian khuluq ini, di samakan dengan kata ethicos / etos, artinya adab kebiasaan, perasaan batin, kecenderungan hati untuk melakukan perbuaatan. Ethicos kemudian berubah menjadi etika.[2]
Dalam kamus Al munjid, khuluq berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku/ tabi’at.[3] Akhlak diartikan sebagai ilmu tata krama,[4] ilmu yang berusaha mengenal tingkah laku manusia, kemudian memberi nialai kepada perbuatan baik atau buruk sesuai dengan norma-norma dan tata susila.
Dilihat dari sudut istilah (terminologi), para ahli berbeda pendapat, namun intinya sama yaitu tentang perilaku manusia. Pendapat-pendapat ahli tersebut  dihimpun sebagai berikut :
a)      Abdul Hamid mengatakan akhlak ialah ilmu tentang keutamaan yang harus dilakukan dengan cara mengikutinya sehingga jiwanya terisi dengan kebaikan, dan tentang kebaikan yang harus dihindarinya sehingga jiwanya kosong (bersih) dari segala bentuk keburukan.
b)      Hamzah Ya’kub mengemukakan pengertian akhlak sebagai berikut:
1.      Akhlak ialah ilmu yang menentukan batas antaa yang baik dan buruk, antara terpuji dan tercela tenteang perkataan atau pebuatan manusia lahir dan batin.
2.      Akhlak ialah ilmu pengetahuan yang memberikan pengertian tentang baik dan buruk, ilmu yang mengajarkan pergaulan manusia dan menyatakan tujuan mreka yang trakhir dari seluruh usaha dan pekerjaan mereka.
c)      Imam Al Ghozali mengatakan akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulakan bermacam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan.
d)     Ibn Miskawaih (w.1030M) mendefinisikan akhlak sebagai suatu keadaan yang melekan pada jiwa manusia yang berbuat dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran atau pertimbangan (kebiasaan sehari-hari).
Jadi, pada hakikatnya khuluq (budi pekerti) atau akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi kepribadian. Dari sini timbulah berbagai macam perbuatan dengan cara spontan tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pikiran.
Dapat dirumuskan bahwa akhlak ialah ilmu yang mengajarkan manusia bebuat baik dan mencegah perbuatan jahat dalam pergaulannya dengan Tuhan, manusia dan mahluk sekelilingnya.

2.     Ruang lingkup akhlak dan ilmu akhlak
a.       Perasaan Akhlak
Perasaan Akhlak ialah kekuatan seseorang dapat mengetahui sesuatu perilaku, sesuaikah ia dengan akhlak baik atau tidak. Perilaku atau tindakan itu pada suatu waktu dianggap tepat dan baik, tetapi pada waktu dan situasi lain bisa dianggap tidak tepat. Sebagai ilustrasi misalnya seorang mahasiswa berlari dengan kencang dari halaman kampus ke jalan raya yang terletak hanya beberapa meter dari halaman kampusnya itu, karena ingin menyelamatkan anak kecil yang sedang melintas dijalan raya itu. Perilaku demikian disebut berakhlak baik, sebab mahasiswa itu ingin menyelamatkan anak kecil dari kecelakaan dijalan raya, inilah yang dikatakan suara hati. Tetapi jika mahasiswa itu lari dengan cepat dari halaman kampusnya ke pinggir jalan hanya untuk sekedar berjumpa dengan pacarnya yang kebetulan sedang berada di tempat itu, maka tindakan itu tidak termasuk berakhlak baik.
Menurut  john locke,bahwa suara hati itu berbeda-beda menurut beberapa peraturan,ia mnyimpulkan sebagai berikut:
Ø  Specification (tertentu),yaitu berpandangan sempit. Contoh,seorang  panik hanya karena melihat orang lain melakukan suatu kesalahan kecil, seperti orang datang ke tempat pengajian tanpa menggunakan kerudung (perempuan).
Ø  Spiritual  (situasi spiritual) ,yaitu pada zaman    dahulu orang melihat luarnya saja tapi sekarang mementingkan luar dalam.Contoh dahulu dia kalangan agamawan melihat orang yang berpredikat haji tidak memakai sorban atau jubah tidak sopan.
Ø  Universal (suatu yang umum) yaitu sifatnya sudah mendunia atau tendensinya ialah ke arah persamaan manusia seluruhannya. Contohnya pada zaman romawi pandangan terhadap budak sahaya berbeda dengan orang yang merdeka. Kini semua manusia adalah sama,yang paling mulia di sisi Tuhan ialah takwanya.
b.      Pendorong Akhlak
Pendorong (stimulant), yaitu kekuatan yang menjadi sumber kelakuan Akhlak (moral action). Setiapkelkuan manusia yang bersifat iradah, mempunyai tujuan tertentu. Tiap tindakan manusia (suluk) mempunyai pendorong tersendiri (ba’its) Hanya saja suluk, aspeknya bersifat konkrit dalam bentuk tingkah laku lahiriah manusia, ba’its aspeknya abstrak, tersembunyi dalam batin manusia, tidak dapat dijangkau oleh panca indra lahiriah.
Sumber perbuatan manusia ada dua, yaitu nafsu atau (gharizah) dan akal. Kedua element ini saling mempengaruhi dan mendominasi satu terhadap lainnya. Kadangkala element nafsu (gharizah) menguasai akal pikiran dan sebaliknya.
Pendorong akhlak dapat berupa kebaikan, kebenaran, tingkah laku mulia, dan sifat-sifat terpuji. Pendorong akhlak ini perlu ditumbuh kembangkan kepada segenap manusia dalam melaksanakan aktifitas hidupnya. Sebab jika pendorong akhlak ini tidak tumbuh dan tidak berkembang dalam diri manusia maka dia tidak mengetahui apakah perbuatanya termasuk akhlak baik atau sebaliknya.
c.       Ukuran Akhlak
Ukuran berarti alat ukur atau standarisasi menyeluruh diseluruh dunia. Ukuran akhlak oleh sebagian ahli diletakan sebagai alat penimba perbuatan baik buruk pada faktor yang ada pada diri manusia yang mashur dengan istilah al-qanun adz-dzatiy , dalam istilah asing disebut autonamaus. Alat penimbang perbuatan ialah faktor yang datang dari diri manusia (al-qanun al-kharijiy), dalam istilah asing disebut hiretenomous, baik yang bersifat ‘urf  atau undang-undang hasil produk pikiran manusia dan kehendak dari Tuhan (agama).
 Mansur Ali Rajab mengatakan bahwa ‘urf  tidak dapat dipergunakan sebagai alat pengukur akhlak. ‘Aisyah ketika diajukan pertanyaan peda beliau tentang akhlak Rasulullah, dengan tegas beliau menjawab, bahwa akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an. Bagi umat Islam, al-Qur’an dan Hadist adalah sabagai alat pengukur akhlak.
Dalam masalah ini Ahli sunnah wal jama’ah berpendapat,Akhlak baik itu apa yang dikatakan baik oleh agama dan buruk itu apa yang ditentukan buruk oleh agama. Akal pikiran tidaklah kuasa menjelaskan bagaimana bentuk akhlak baik dan akhlak buruk, serta pastilah tidak kuasa memberi ukuran yang pas bagaimana akhlak yang baik dan buruk.
Terlepas dari ukuran akhlak  baik dan buruk, aliran Mu’tazilah berpandangan, bahwa mengetahui dan bersyukur kepada Allah, memberi kenikmatan pada orang lain dan mengetahui baik buruk akhlak seseorang, itu termasuk kewajiban akal.
Al-Ghazali mempunyai pendapat agak berbeda yaitu orang yang mengajak kepada taqlid (ikut-ikutan) dengan mengisolasi adlah termasuk  orang yang  bodoh (fasiq), orang yang hanya menggunakan akal saja dalam berakhlak atau terlepas dai petunjuk Al-Qur’an dan Hadidt adalah orang yang tertipu. AL-Ghazali menggabungkan antara pedirian Ahli sunnah dan Mu’tazilah, maka menurutnya akhlak pengukur akhlak ialah :
a)      Al-Qur’an;
b)      Sunnah Rasul;
c)      Akal (ijtihad).
Akal sehat, hati yang bersih, nafsu yang terbimbing dapat mengetahui akhlak yang baik dak yang buruk, tapi kalau hati yang bercampur nafsu dunia sulit mengetahui dan membedakan antara yang baik dan yang buruk, terutama tentang prinsip-prinsip keutamaan dan yang seumpamanya.
d.      Tujuan akhlak
Tujuan ialah sesuatu yang dikehendaki, baik individu maupun kelompok. Tujuan akhlak yang dimaksud ialah melakukan sesuatu atau tidak melakukannya, yang dikenal dengan istilah al-Ghayah, dalam bahasa Inggris disebut the high goal, dalam bahasa Indonesia lazim disebut dengan ketinggian akhlak.
Ketinggian akhlak diartikan sebagai meletakan kebahagiaan pada pemuaasan nafsu makan, minum dan syahwat (seks) dengan cara yang halal. Ada pula yang meletakan ketinggian akhlak itu pada kedudukan (prestise) dan tindakan kearah pemikiran atau kebijaksanaan (wisdom) atau hikmah.
Al-Ghazali menyebutkan bahwa ketinggian akhlak merupakan kebaikan tertinggi. Kebaikan-kebaikan semuanya bersumber pada empat macam :
·    Kebaikan jiwa;
·    Kebaikan dan keutamaan badan;
·    Kebaikan eksternal (al-kharijiyah);
·    Kebaikan Bimbingan akhlak (taufik-hidayah).
Jadi, tujuan akhlak diharapkan untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat bagi pelakunya sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Hadist. Ketinggian terlatak pada hati yang sejahtera (qalbun salim) dan pada ketentraman hati(rahatun qalbi).
e.       Pokok-pokok Ilmu Akhlak
             Pokok pembahasan ilmu akhlak ialah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilaiya,baik atau buruk. JH Muirhead menyebutkan bahwa pokok pembahasan (subject matter) ilmu akhlak ialah penyelidikan tentang tingkah laku dan sifat manusia.AL-Ghazali mengatakan bahwa pokok pembahasan ilmu akhlak meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.baik sebagai individu(perseorangan)maupun kelompok(masyarakaat). dilihat dari aspek kehidupan manusia,maka perbuatan manusia dapat di katagorikan menjadi dua:
1.      Perbuatan yang lahir denan kehendak dan di sengaja
2.      Perbuatan yang lahir tanpa kehendak dan tidak di sengaja
Jenis perbuatan pertama termasuk perbuatan akhlaki(menjadi objek ilmu akhlak). Jenis perbuatan yang kedua tidak menjadi lapangan ilmu ahlak.
            Untuk menetapkan apakah sesutau perbuatan itu lahir dengan kehendak dan di sengaja,dan bagaimana menilaiya,berikut ini beberapa syarat yang perlu diperhatikan.
1.    Situasai memungkinkan adanya pilihan (bukan tanpa paksaan).ini disebabkan karna adaya kemauan bebas,sehingga tindakan di lakukan dengan sengaja.
2.    Sadar apa yang di lakukan,yakni ia melakukan perbuatan bukan karena gerak reflek dan dapat membedakan mengenai nilai perbuatan baik buruknya.
Adapun pokok ajaran ilmu ahlak ialah segala perbuatan manusia yang timbul dari orang yang melaksanakan dengan sadar, disengaja dan ia mnengetahui waktu melakukanya, akibat dari apa yang ia buat,demikian perbuatan yang tidak dengan kehendak,tetapi dapat diikhtiyarkan penjagannya pada waktu sadar.

3.     Istilah Lain dari Akhlak dan Ilmu Akhlak
Ada dua jenis akhlak dalam islam yaitu akhlaqul karimah (akhlak yang terpuji) ialah akhlak yang baik dan benar menurut syariat Islam, dan akhlaqul madzmumah (akhlak tercela) ialah akhlak yang tidak baik dan tidak benar menurut Islam.[5]
1.      Akhlak karimah (akhlak terpuji), yang termasuk akhlak terpuji sebagai berikut:
a.       Husnudzan adalah berprasangka baik atau disebut juga positive thinking
b.      Gigih atau kerja yang tidak disenangi serta optimis.
c.       Adil adalah tidak memihak atau berat sebelah dan memperlakukan dengan seimbang antara kewajiban dan hak.
d.      Sabar adalah tahan terhadap penderitaan atau yang tidak disenangi dengan sikap ridho dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.
e.       Tawakal adalah berserah diri sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi atau menunggu hasil dari suatu pekerjaan.
f.       Qona’ah adalah merasa cukup dengan apa yang telah dimilikinya dan menjauhkan diri dari sifat ketidak puasan atu kekurangan
g.      Bijaksan adlah suatu sikap dan pebuatan seseorang yang dilakukan dengan cara hati-hati dan penuh kearifan terhadap suatu pemasalahan yang terjadi, baik itu yang terjadi pada diri sendiri ataupun  orang lain.
2.      Akhlak madzmumah (akhlak tercela), yang termasuk akhlak tercela sebagai berikut :
a.       Su’udzan adalah berburuk sangka terhadap seseorang atau sesuatu hal atau sering disebut dengan negative thinking .
b.      Pesimis adalah suatu perasaan atau sikap yang tidak yakin dengan segala kemampuan dan usaha yang dilakukan.
c.       Sombong adalah suatu sikap yang selalu meniggikan dirinya sendiri,merasa yang paling baik dan paling hebat dibandingkan dengan yang lainnya.
d.      Tamak adalah selalu merasa tidak puas dengan apa yang sudah ia miliki dan apa yang sudah Allah anugerahkan kepadanya.
e.       Riya’ adalah sifat pamer
f.       Kikir atau pelit ialah sifat tidak mau berbagi dengan yang lain
g.      Rendah diri adalah suatu sikap yang menunjukan adanya rasa tidak percaya diri ketika bergaul dengan yang lain dan berbicara di depan umum atau biasa disebut dengan minder
h.      Boros adalah sikap suka menghambur-hamburkan harta untuk hal yang tidak penting.
i.        Dengki.
j.        Dusta.

4.     Tujuan Mempelajari Ilmu Akhlak
Seseorang yang mempelajari dasar-dasar ilmu akhlak akan menjadi orang yang baik budi pekertinya. Ia menjadi anggota masyatakat yang berati dan berjasa. Ilmu akhlak tidak memberi jaminan seseorang menjadi baik dan berbudi luhur. Namun mempelajari akhlak dapat membuka mata hati seseorang untuk mengetahui yang baik dan yang buruk. Begitu pula memberi pengertian faedah jika kita berbuat baik dan bahayanya berbuat kejahatan.
Orang yang tinggi budi pekertinya mampu merasakan kebahagiaan hidup. Ia merasakan dirinya berguna, berharga, dan mapu menggunakan potensinya untuk membahagiakan dirinya dan untuk orang lain.
Setiap orang dalm hidupnya bercita-cita memperoleh kebahagiaan. Salah satu kebahagiaan ialah orang yang mensucikan dirinya, yaitu suci dari sifat dan perangai yang buruk, suci lahir dan batin. Sebaliknya jiwa yang kotor dan perangai tercela mambawa kesengsaraan dunia dan akhirat.











BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Ilmu akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena ilmu akhlak pada dasarnya bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan tentang baik dan buruknya tingkah laku seseorang. Dan pokok-pokok pembahasannya adalah tingkah laku manusia untuk menetapkan nilai yang baik dan buruk. Serta akhlak juga dibagi menjadi dua, yaitu akhlak terpuji (Akhlaqul karimah) dan akhlak tercela (akhlaqul madzmumah).
Oleh sebab itu, sebagai manusia haruslah berakhlak yang baik yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist, karena akhlak seseorang manggambarkan kepribadiannya dan baik buruknya seseorang dapat dilihat dari Akhlaknya. Maka berakhlaklah yang baik, supaya hidup kita bahagia di dunia dan akhirat.
















DAFTAR PUSTAKA
Abdullah,M. Yatimin 2007. Studi Akhlak dan dalam presepektif Al-Qur’an. Jakarta : Amzah.
Mustafa, A. 1997. Akhlak tasawuf. Bandung : pustaka setia.
Http//.relita akhlak manusia.com.



[1] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka setia, 1997), hlm. 11.
[2] Sahilun A. Nasir, Tinjauan Akhlak, (surabaya : Al-Ikhlas, 1991),hlm. 14.
[3] Luis Ma’luf, Kamus Al-munjid, Al-Maktabah Al-Katulikiyah, (Beirut, tt), hlm. 194.
[4] Husin Al-Habsyi, Kamus Al-Kautsar, (Surabaya: Assegaf, tt), hlm. 87.
[5] Barmawi Umawi, Materi Akhlak, (solo: Ramadhani, 1993), hlm. 196.